Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 September 2023

Orang “Bejo” Menurut Pandangan Sosiologi dan Penerapannya dalam Pelaksanaan Kurikulum Merdeka di SMAN 8 Surakarta

Oleh Heni Setyowati, S. Pd.
(Guru Sosiologi SMAN 8 Surakarta - Jawa Tengah)

Edisi: Vol. 4 No. 1 September - Desember 2023

Salah satu tujuan pembelajaran pada kurikulum merdeka sekarang ini adalah mencetak profil pelajar Pancasila. Siswa selain dituntut aktif dalam pembelajaran, berkompetensi dalam bidang pengetahuan dan keterampilan, juga diharapkan mempunyai sikap/karakter yang positif. Sebagai guru yang bijak, kita dapat menumbuhkan karakter yang positif dalam proses pembelajaran, misalnya memberi motivasi dan sugesti positif kepada siswa. Sebagai contoh dengan memberi kata-kata pujian yang membesarkan hati siswa, menghindari pemberian cap negatif kepada siswa, dan memberi ilustrasi/contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tentang orang pintar yang kalah dengan orang “Bejo”.

Selasa, 30 November 2021

MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) MENUMBUHKAN RASA KEPEDULIAN PESERTA DIDIK DAN KECAKAPAN MEMECAHKAN MASALAH

Oleh: Cettra Shandilia L. A., S. Pd.
(Guru Sosiologi di SMA N 6 Surakarta - Jawa Tengah)

Edisi: Vol.2 No.1 September - Desember 2021

Di masa sekarang ini, mencari anak atau peserta didik yang memiliki rasa peduli terhadap lingkungan sekitar sangatlah sulit. Anak-anak sudah mulai terpengaruh oleh smatphone dan media sosial sehingga anak-anak menjadi anak yang individualis dan tidak peduli kepada orang lain serta lingkungan sekitar. Di satu sisi kurikulum pendidikan menuntut tumbuhnya karakter yang baik pada peserta didik. Guru  tidak hanya mencerdaskan saja tetapi juga harus mencetak karakter yang positif. Dalam kurikulum 2013 pencapaian karakter dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran saintifik. Dalam pendekatan saintifik dikenal beberapa model pembelajaran di antaranya inquiri learning, discovery learning (DL), problem based learning (PBL) dan project based learning (PjBL). Di antara beberapa model tersebut, yang paling tepat digunakan untuk membentuk karakter anak agar memiliki rasa kepedulian kepada orang lain, mampu bersosialisasi dengan baik, responsif terhadap lingkungan, berfikir kritis serta cakap memecahan masalah maka model yang paling tepat adalah model PBL. Model PBL dirancang agar peserta didik mendapat pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki kecakapan berpartisipasi di dalam tim. 

Senin, 15 November 2021

METODE COURSE REVIEW HORAY SEBAGAI UPAYA MENINGKATKANN KUALITAS PROSES DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN SOSIOLOGI

Oleh: Nihayah, S. Sos
(Guru Mata Pelajaran Sosiologi SMA Muhammadiyah 1 Surakarta - Jawa Tengah)

Edisi: Vol.2 No.1 September - Desember 2021

Dalam pengembangan pembelajaran Sosiologi banyak siswa yang kurang menyerap pelajaran yang diberikan, hal ini disebabkan kurangnya minat belajar siswa. Hal ini terjadi salah satu sebabnya karena guru hanya mengacu pada satu model pembelajaran saja, atau hanya diskusi biasa saja tanpa mengacu pada pemahaman maupun keterampilan siswa yang seharusnya dilatih, sehingga siswa merasa bosan dan tidak merasa dilibatkan secara aktif sehingga akhirnya siswa tidak memahami materi yang diajarkan guru. 

Kamis, 21 Oktober 2021

KELUARGA SEBAGAI SARANA EDUKASI DAN SOSIALISASI DI TENGAH GLOBALISASI PADA MASA PANDEMI

Oleh Heni Setyowati, S. Pd.
(Guru Sosiologi SMAN 8 Surakarta - Jawa Tengah)

Edisi: Vol.2 No.1 September - Desember 2021

Pada era globalisasi sekarang ini setiap individu dituntut mempunyai prestasi tersendiri yang merupakan senjata untuk terus maju di tengah kompetisi yang tak terhindarkan lagi. Bagi peserta didik persaingan-persaingan tersebut terkadang menjadi beban bila tidak diimbangi dengan pemahaman yang benar dan dukungan moral yang baik serta fasilitas yang memadai.

Di sekolah peserta didik mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan juga dibekali dengan penanaman karakter. Guru sebagai salah satu agen sosialisasi di sekolah mempunyai tugas mengajar dan mendidik peserta didik. Dalam hal ini guru adalah tangan panjang dari orang tua/wali murid yang hanya mempunyai waktu terbatas pada jam kerja saja. Sedangkan orangtua adalah agen utama dalam mendidik anak dan agen sosialisasi pertama dalam menanamkan nilai-nilai sosial. Untuk itu demi suksesnya visi dan misi pendidikan generasi bangsa yang ada di tangan anak-anak kita, marilah kita sebagai orangtua menjalankan peranan kita semaksimal mungkin guna mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Featured Post

Refleksi Pembelajaran Matematika Realistik dengan Geogebra dalam Pembelajaran Fungsi Eksponensial di SMAN 1 Boyolali

Edisi: Vol. 5 No. 1 September - Desember 2024 Penulis : Windi  Hastuti, S.Pd (Guru Matematika SMAN 1 Boyolali - Jawa Tengah) Keprihatinan sa...